Armada BRT Belum Mampu Tutupi Biaya Operasionalnya

MAKASSAR – Meski sudah dua tahun sudah beroperasi, namun pendapatan dari Bus Rapid Transit (BRT) belum mampu menutupi biaya operasionalnya alias rugi.  Perum Damri harus menutupi kerugian Rp.1 juta sampai Rp.15 juta perhari. Kendati harus merugi, perusahaan plat merah ini tetap menurunkan tarif untuk PNS dan pelajar. 

Dari 30 unit BRT yang beroperasi ditiga koridor, rata-rata penghasilan Rp.4,5 juta/hari. Sementara, biaya operasional mulai dari bahan bakar minyak (BBM), sopir, dan pengawas mencapai Rp.5,5 juta hingga Rp.6 juta/hari. Biaya operasional ini belum termasuk anggaran untuk perawatan armada.Bagian Keuangan Perum Damri Makassar, Rahman mengatakan, mereka terpaksa harus melakukan subsidi silang untuk menutupi kerugian. Keuntungan dari bus bandara dan bus antar kota dialihkan ke BRT untuk menutupi kerugian. Sejauh ini Damri baru mengoperasikan tiga koridor. Yakni koridor II yang melayani rute mal ke mal, koridor III rute Makassar-Pallangga, dan koridor IV rute Makassar-Maros. Masing-masing koridor ada 10 BRT yang beroperasi. Dari tiga koridor tersebut, penghasilan di koridor II sudah menggembirakan. Setiap hari rata-rata Rp.2,5 juta. Disusul koridor III dengan rata-rata Rp.1,5 juta per hari, dan koridor IV dengan penghasilan Rp.500 ribu perhari.(mar/R)