Pendidikan ABK Tarik Perhatian AI BRIDGE School

MAKASSAR – Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) menjadi perhatian khusus Australia Indonesia BRIDGE School Partnerships di bawah Asian Education Foundation. Perhatian itu diberikan dengan menggelar dialog pendidikan yang berbasis sekolah inklusi untuk ABK di hotel Four Points by Sheraton belum lama ini.

Sejumlah narasumber hadir, diantaranya Praktisi Bidang Pendidikan Sulsel, Dr Fatimah Asiz, Program Manager BRIDGE,  Robertus Raga Djonedan Direktur Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (Perdik) Sulsel, Abd. Rahman.

Menurut Fatimah Asiz, sekolah inklusi sebagai sistem layanan pendidikan. Dimana institusi pendidikan harus mengikutsertakan anak berkebutuhan khusus belajar bersama dengan anak sebayanya di sekolah reguler terdekat dekat dengan tempat tinggalnya. Sekolah juga harusnya mengidentifikasi, serta melakukan assesment terhadap ABK. Sehingga diperlukan pemetaan terhadap kompetisi dan potensi peserta didik yang ada.

Tercatat, sekitar 574 sekolah inklusi yang ada di Sulsel dengan ketersediaan tenaga pendidik berjumlah 1.148 orang. “Tenaga pendidik tersebar sebanyak 448 orang di tingkat SD, 113 orang di SMP dan 13 orang di SMA. Selain Pendidik, juga diperlukan rekayasa kondisi bangunan sekolah yang aksesibilitas bagi ABK, ” ungkap Praktisi Bidang Pendidikan Sulsel itu.

Direktur Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (Perdik) Sulsel menambahkan, dalam konstitusi sangat jelas mengatur bahwa negara berhak memberikan jaminan sebenarnya kepada anak-anak berkebutuhan khusus untuk memperoleh layanan pendidikan yang berkualitas.     (hms-ar/R)