‘SP II Punaga’ Kasus Baru Jual Beli Lahan Transmigrasi

Lokasi yang di pagar keliling seorang pengusaha China di desa Punaga, kecamatan Mangarabombang, kabupaten Takalar diduga lahan milik transmigrasi di SP II Punaga. Kades Punaga menegaskan kalau lahan tersebut merupakan hak milik yang bersertifikat dan masuk dalam wilyaha rincik.

MARBO – Jual beli lahan Negara di kabupaten Takalar jadi obyek menggiurkan karena modal dan pengurusannya tidak terlalu ribet. Selain kasus penjualan lahan transmigrasi di desa Laikang, kecamatan Marbo, kini mengemuka aksi yang sama di lokasi trans SP II Punaga.

Informasi warga setempat menyebutkan, lahan yang dibeli pengusaha China, Johan tidaklah salah jika sebagian dari lokasinya yang sudah di pagar meruapakan hak milik, bersertifikat ataupun masuk wilayah rinci. Tetapi tidak berarti secara keseluruhan lahan kurang lebih 35 Ha masuk tanah rincik. Itu dibuktikan oleh adanya warga yang memiliki surat tanda pembayaran pajak (SPPT) di lahan yang sama. “Saya punya SPPT di lokasi itu atas pemberian dari Karaeng Punaga yang menjadi Kades waktu itu,” ungkapnya.

Namun Kepala Desa setempat berkeras kalau penjual lahan ke pengusaha adalah mantan Kades Punaga Iskandar Muda almarhum. Begitu juga lahan yang di beli pengusaha Johan merupakan lahan bersertifikat dan masuk tanah rincik.

Hal senada juga disampaikan perwakilan pengusaha China, Bombong yang mengklaim kalau lokasi yang dibeli bosnya tidak ada masalahnya karena bukan lahan transmigrasi, meskipun tak mampu menjelaskan siapa pemilik lahan yang menjual.   (R)