Cabut Subsidi Listrik, Ini Upaya PLN Gasak Uang Rakyat

Hari Raya Idul Fitri 1438 H PLN memberikan Promo Gemerlap Lebaran 2017 yang berlangsung hingga tanggal 31 Juli 2017 dalam bentuk potongan biaya penyambungan tambah daya listrik, bagi rumah ibadah potongan yang diberikan sebesar 100% atau bebas biaya penyambungan. Selain itu seluruh konsumen PLN juga memperoleh kesempatan untuk menambah daya listrik hingga 197 kVA dengan hanya membayar 50% Biaya Penyambungan untuk penambahan daya. AKTUAL/Munzir
Analis ekonomi politik Abdulrachim Kresno menyayangkan kebijakan pencabutan subsidi 900 volt ampere sebanyak 19 juta rumah tangga, yang dianggap sudah tak miskin lagi. Padahal data 19 juta sendiri perlu diverifikasi lagi untuk dipastikan validitasnya.
Selama ini, klaim pihak PT PLN dan Kementerian Energi Sumber Daya dan Mineral menganggap, mereka ini tidak termasuk dalam daftar masyarakat miskin yang dibuat oleh Kementerian Sosial. Sehingga mereka dinyatakan sebagai masyarakat mampu oleh PLN/Kementerian ESDM itu. Kalau masyarakat mampu, maka tidak berhak untuk mendapatkan subsidi, oleh karena itu subsidinya harus dicabut.
Dikutip dari Aktual.com edisi Jum’at (30/6), dengan pencabutan subsidi ini telah menjadi beban bagi 19 juta rakyat Indonesia itu. Pasalnya, di awal tahun 2016, mereka masih dikenai tarif Rp585/kwh. Namun secara bertahap telah dicabut subsidinya dan sekarang tarifnya menjadi Rp1.352/kwh. “Dan pada 1 Juli 2017 nanti menjadi Rp1.450/kwh atau naiknya 248% dari tarif pada awal 2016 itu.”
Akan tetapi di sisi lain, dengan kebijakan tersebut, PLN/pemerintah telah diuntungkan. Karena mereka bisa mengantongi dana subsidi mencapai Rp15,44 triliun. Padahal 19 juta pengguna listirk 900 VA itu sebenarnya termasuk golongan masyarakat nyaris miskin, tetapi dianggap sebagai masyarakat mampu. “Sehingga rakyat dengan dipaksa menyerahkan uang sebesar Rp15,44 triliun setiap tahun -dengan catatan tarifnya tidak naik lagi- kepada PLN/Pemerintah akibat adanya pencabutan subsidi itu.”
Cuma masalah