Beragam Pendapat Warnai Proyek Jalan Beton Berdebu Poros Tala
TAKALAR – Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) merupakan instrumen utama yang digunakan Pemerintah dalam rangka penanganan kesehatan dan pemulihan ekonomi sebagai dampak terjadinya pandemi.

Takalar tahun ini keciprak, salah satu pekerjaannya peningkatan jalan ruas Bantinoto – Rajaya, Kecamatan Polongbangkeng Selatan (Polsel) dan peningkatan jalan ruas Sombala Bella – Tala, Kecamatan Pattallassang. Anggarannya cukup besar dengan capaian angka Rp.14,9 miliar.
Kondisi dari pekerjaan tersebut menuai keluhan baik dari pengguna jalan maupun warga sekitar. Pro kontra tanggapan pun bermunculan seperti disampaikan salah satu warga di Sombala Bella, pekerjaan itu baru habis di LC ,masih ada proses pembesian dan pengecoran rigid”.
“Beberapa pengguna jalan lebih mau berkelahi kalau disuruh belok dengan masyarakat, Itu yang saya dapat pantau karna saya tinggal di sekitar pekerjaan itu,” tulis warga via medsos.
Menurut pemilik akun, Rene Wijaya Bundu, Ini baru rigit yang mutunya K175 ketebalan 10 cm, belum masuk k350 ketebalan 20 cm. “Inilah Indonesia, belum bisa dilewati kendaraan karena masa pengeringan belum sampai tetap pengendara memaksa masuk jadi pihak kontraktor tak bisa apa-apa lagi harus mengalah, jadinya berdebu,” tulisnya.
Dilain hal, Baso Galesong menyampaikan kalau tidak ada kebaikan dalam proses pembangunan.
“Tenana antu kabajikang, Jalanan rusak dan berlubang mengeluh, diperbaiki maraeng carita. Lantas bagaimana ????” ungkapnya.
Sementara di pihak lain juga berpendapat, itu kelemahan kontraktor yang hanya berorientasi keuntungan dan mengabaikan kualitas pekerjaan. “Meskipun baru dasar, tidak seharusnya berdebu kalau semennya seimbang dengan pasirnya,” katanya.
Disampaikan, nantilah dilihat hasil dan kualitas pekerjaan setelah rampung, karena di awal pekerjaan sudah kelihatan ketidak-profesionalan kerja. (cw)
