Cinta Pemimpin Ini Berlebihan, Tinggalkan Utang Rp250 Miliar di Akhir Jabatannya
TAKALAR – Ditengah ketidak-stabilan ekonomi pasca pandemi, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Takalar berinisiasi cemerlang meskipun jadi beban selama 8 tahun kedepannya. Ide cemerlang tersebut alhasil terealisasi dengan dikerjakannya sejumlah infrastruktur jalan dan beberapa kegiatan lainnya.

Sumber utang dari pemulihan ekonomi nasional (PEN) sebanyak Rp250 miliar yang akan di angsur selama 8 tahun ini tengah berjalan, bahkan sudah dinilai bermasalah.
Pasalnya, belum lama ini digelar rapat terbuka di kantor PUPR dihadiri Kajari, Kasatreskim, Kanit Tipikor, Inspektorat, PPK, rekanan, konsultan Pengawas, Aktifis Anti Korupsi dan wartawan. Dipertemuan tersebut mencuat kalimat “putus kontrak” terhadap pelaku pekerjaan infrastruktur jalan beton karena tidak sesuai harapan.
Penguatan ketidak-sesuain rencana anggaran belanja (RAB) diperkuat oleh pernyataan konsultan pengawas yang hadir lebih dari 10 orang.
Selain terdapatnya kerusakan dipekerjaan, 5 bendera perusahaan hanya di akomodir satu orang. Hal itu jelas dengan kehadiran satu orang pelaksana kegiatan proyek berinisial “A” dan mengaku bertanggung jawab di semua titik pekerjaan.
“Saya kira kita terlalu berlebihan jika kita masih memberi peluang kepada rekanan untuk melanjutkan pekerjaan ini,” tulis aktifis Gergaji di Akun WhatshApp-nya dengan mengajak semua pihak untuk lebih serius mengawal kasus ini demi rakyat Takalar yang kini jadi jaminan utang.
Kalaupun kebijakan yang dilakukan Pemerintahan Bupati Syamsari Kitta orientasinya untuk kepentingan Takalar kedepannya, namun sangat berlebihan karena dilakukan diakhir jabatannya.
“Ini bukan cinta rakyat, tapi lebih ke dapat-dapat,” pungkas warga penikmat kopi dibilangan pasar sentral sore kemarin. (cw)
