‘Attabba’ Kala Itu, Ternyata ‘Angngamba’ Sesudahnya…?
TAKALAR – ‘Attabba’ suatu kegiatan tradisional masyarakat dikala sedang menggelar pesta seperti sunatan (A’jaga mks red.) dan pesta perkawinan (nikah) di lingkup keluarga Makassar. Prosesi Attabba atau anynyori empo-empo merupakan bentuk partisipasi keluarga membantu keluarga yang sedang menggelar pesta.
Aktivitas tradisional ‘Attabba’ inipun berkesempatan mewarnai kegiatan kanpanye pemenangan calon Bupati Berua Baji (SKHD) kala itu. Dan hasil partisipasinya kala itu cukup lumayan meskipun tidak membiayai secara keseluruhan dari kegiatan pemenangan.

Kurang lebih hikmah dari kegiatan Attabba menjadi sugesti dan motivasi untuk melakukan upaya menang lewat kepedulian masyarakat pendukung. Bagaimana tidak, kemiskinan alias ketidak-mampuan ekonomi calon Berua Baji kala itu jadi trending topik dan pesimis kemenangan.
Alhasil, berkat kerja keras Tim yang dikendalikan Hj. Tenri Olle Yasin Limpo membuahkan hasil dengan kemenangan. Namun secara keseluruhan dari seluruh daya dan upaya yang dikerahkan, endingnya interpelasi yang saat ini mengarah ke hak angket. Kenapa, karena hilangnya partisipasi, rasa peduli, tanggung jawab dan bahkan tak menghargai kerja orang lain termasuk mengabaikan hak anggota DPRD.
Faktanya, sejak pemerintahan SKHD kurun waktu tiga tahun, inplementasi Attabba berubah menjadi ‘Angngamba’ dengan pola mutasi yang beruntung sejak awal hingga sekarang. Jadi dulunya Attabba, namun selanjutnya ‘Angngamba’ tanpa menoleh makna dari Attabba itu sendiri.
Mungkinkah makna ‘Attabba’ tidak diketahuinya atau pura-pura, sebagaimana terjadi saat sidang interpelasi di gelar di Gedung DPRD dengan kehadiran Bupati Palsu karena Bupati aslinya dikabarkan sakit…?
Wallahu Alam Bissawaf, pastinya Bupati asli saat sidang interpelasi ada muncul di lapangan Makkatang Dg Sibali dan makan bersama di salah satu warung waktu itu didampingi Dirut PDAM dan Dirut Rumkit H. Padjoga Dg Ngalle. (rd)
