Banjir Tamu… Pekerja Hotel Hanya Bisa Meringis

Pekerja (karyawan) hotel tak mampu berbuat banyak dengan kondisi tamu yang membludak. Merka hanya bisa meringis dan melakukan pekerjaannya.

Papita Garcia Lupianez (59), sudah 40 tahun bekerja di kota wisata Torremolinos di Costa del Sol. Bekerja empat dekade di kawasan pesisir Spanyol yang menjadi incaran para wisatawan dunia itu ternyata tak membuat Papita kini berdiam diri.

Dia kini bahkan dikenal sebagai aktivis Comisiones Obreras (CCOO), yang memperjuangkan perbaikan hidup para pekerja di bidang pariwisata ini.

Papita memiliki kontrak kerja penuh waktu dengan gaji 1.300 euro atau sekitar Rp 18,2 juta sebulan. Jauh di atas upah minimum Spanyol yaitu 764,40 euro atau hampir Rp 11 juta. “Saya sangat malu ketika bertemu kolega yang dipekerjakan para subkontraktor,” ujar Pepita.

“Mereka punya kontrak bekerja selama enam jam sehari, kenyataannya mereka harus bekerja delapan hingga 10 jam,” tambah dia.

Atasan mereka , lanjut Pepita, hanya mengatakan para pekerja itu baru boleh pulang jika sudah meyelesaikan pekerjaan mereka.

Keberhasilan Spanyol menjaring wisatawan asing ternyata tak selalu berimbas kepada sejumlah orang yang bekerja langsung di industri itu. Mereka adalah para pelayan hotel yang merasa dibayar terlalu murah di tengah banjir 68 juta turis tahun lalu.

Selama tiga tahun berturut-turut, Spanyol terus kebanjiran turis, dan untuk melayani mereka maka sebanyak 100.000 orang bekerja sebagai pelayan hotel.

Namun, menurut serikat pekerja hotel, dalam dua tahun terakhir semakin banyak para pelayan hotel mempertanyakan kontrak kerja mereka.

Mereka juga semakin sering “mengadu” kepada pers tentang eksploitasi dan minimnya pendapatan di negeri ketiga di dunia yang paling banyak dikunjungi turis.

Alhasil pada pertengahan pekan lalu, para pekerja perhotelan ini, termasuk Pepita, menggelar aksi protes di kota Malaga.

Mereka menentang reformasi undang-undang tenaga kerja Spanyol yang disahkan pada 2012. Aturan baru itu membuat para pelayan hotel menerima gaji yang rendah.

Perubahan aturan ini membuat para pengusaha lebih mudah memberhentikan karyawan serta memperlemah kekuatan penawaran kolektif.

Akibat lain adalah berkembangnya peruahaan alih daya (outsourcing) yang memasok tenaga kerja khususnya di bidang kebersihan dengan biaya yang lebih murah.

“Banyak hotel sudah memberhentikan staf yang mereka rekrut dan beralih ke perusahaan outsourcing,” kata Ernest Canada, penulis buku tentang para pelayan hotel.

Para pelayan yang bekerja di perusahaan-perusahaan alih daya tidak tercakup dalam kesepakatan kerja kolektif tentang staf rumah tangga.

Namun, mereka dimasukkan ke dalam sektor kebersihan yang mendapatkan upah 40 persen lebih rendah dari rekan mereka di bagian lain.  (*/R)