Investasi Raja Salman ke China 10 Kali Lipat dari Indonesia

Kunjungan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud selama 13 hari di Indonesia mendatangkan investasi yang tak sebanding dengan investasi kongklomerat tersebut ke China selama dua hari. Investasi Raja Salman di Indonesia hanya mencapai US$6 miliar atau sekitar Rp89 triliun (kurs Rp13.300), sedangkan investasinya ke China mencapai US$65 miliar atau sekitar Rp870 triliun.

Dikutip dari detikfinance, investasi Raja Salman ke China antara lain mencakup nota kesepahaman (MoU) antara perusahaan raksasa Arab Saudi, Aramco dan perusahaan China Norinco untuk pembangunan kilang di China. Kemudian, kesepakatan pengembangan proyek petrokimia antara SABIC (Saudi Basic Industries Corp) dan Sinopec.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun mengakui dirinya sedikit kecewa. Jokowi dengan sedikit bercanda, bahkan mengungkit upayanya memayungi Raja Salman saat berkunjung ke Indonesia. Padahal, Indonesia sebelumnya berharap dapat memperoleh investasi dari kunjungan tersebut sebesar US$ 25 miliar atau sekitar Rp 332 triliun.

Kerjasama pemerintah Indonesia dan Arab Saudi sendiri mencakup 11 MoU di berbagai bidang yang telah ditandatangani kemarin (12/4) di Istana Bogor, Jawa Barat. Salah satu yang nilainya paling besar, yakni kerja sama antara PT Pertamina (Persero) dengan Saudi Aramco terkait Kilang Cilacap senilai US$ 6 miliar atau sekitar Rp 80 triliun.

Selain itu, terdapat pula MoU terkait pendanaan Arab Saudi terhadap pembiayaan proyek pembangunan antara Saudi Fund for Development dan Pemerintah Indonesia senilai US$ 1 miliar atau sekitar Rp 13,3 triliun.

Ekonom Bank Permata Joshua Pardede mengungkapkan, besarnya investasi Arab Saudi ke China dilatarbelakangi hubungan saling menguntungkan (mutualisme) kedua negara. Sebaliknya, timbal balik dari investasi Arab Saudi ke Indonesia terbilang masih kecil.

“Saudi juga tentunya mengharapkan hubungan mutualisme dalam pertimbangan investasinya. Jika dibandingkan dengan Indonesia, tentu secara mutualisme China lebih menguntungkan,” terang Joshua.

Timbal balik yang diharapkan Arab Saudi dari China, dijelaskan Joshua, antara lain terkait kebutuhan sumber energi yang dapat dipasok dari negara tersebut. Selain itu, China juga punya kepentingan besar untuk berinvestasi ke negeri Raja Salman.

“China ini kan konsumen energi terbesar dunia, secara ekonomi juga terbesar kedua dunia. Apalagi Saudi juga berkepentingan dengan industri minyaknya, kondisi ekonomi di sana juga kan sedang sulit setelah turunnya harga minyak,” terangnya.

Disamping faktor hubungan mutualisme, iklim investasi menurut Joshua, juga berpengaruh pada sedikitnya minat investor Arab Saudi tersebut untuk menanamkan uangnya di Indonesia.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati menilai, lebih kecilnya penanaman modal Arab Saudi di Indonesia disebabkan oleh karakteristik investor asal negara-negara Timur Tengah yang menyukai kepraktisan.

“Karakter investor Saudi berbeda dengan investor negara lain yang selama ini datang dan investasi besar ke Indonesia. Investor Timur Tengah umumnya lebih menyukai investasi yang instan, atau dengan kata lain tak mau repot,” ungkapnya.

Dia mencontohkan, dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi serta iklim investasinya yang stabil, membuat China lebih menarik dibandingkan Indonesia di mata pengusaha Arab Saudi. Di luar itu, kemudahan bisnis dan infrastruktur di China juga jauh lebih mapan ketimbang Indonesia.   (agi/gen)