Malam ke 2 di DPRD Takalar, Demonstran Tonton Rayuan Pulau Palsu

Hari kedua menduduki Gedung DPRD Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, para demonstran nobar film dikumenter ‘Rayuan Pulau Palsu dan Kala Benoa
TAKALAR –  Pendudukan oleh Gerakan masyarakat dan mahasiswa tolak tambang pasir laut Takalar di gedung DPRD Takalar kini memasuki malam kedua. Pendudukan dilakukan guna terus menekan DPRD Takalar mengeluarkan rekomendasi dan putusan sidang paripurna guna mencabut izin prinsip penambangan pasir laut.
Solidaritas penolakan tambang pasir laut Takalar kini semakin meluas. Ratusan masyarakat dari  berbagai elemen baik warga takalar maupun yang berasal dari luar takalar berkumpul di pelataran DPRD. Mereka melantai dengan memanfaatkan waktu onton bareng film dokumenter “Rayuan Pulau Palsu” dan ” Kala Benoa” yang menjadi agenda perjuangannya.
Film ini kata mereka, menjadi penyemangat dan bahan refleksi akan dampak kejahatan lingkungan yang menyengsarakan rakyat. Salah satunya, pengambilan pasir yang kemudian dapat mengancam kelestarian biota serta hilangnya pemukiman serta mata pencaharian warga di sekitar pesisir.
Di malam kedua itu juga, diisi dengan sharing diskusi terkait perkembangan konflik tambang dan persoalan yang tertanam selama ini di Takalar. Upaya perjuangan warga mulai dari pengusiran kapal penambang hingga membuat petisi penolakan telah dilakukan. Namun, segala upaya tersebut tidak membuahkan hasil yang memuaskan warga Takalar. Kapal penambang Fairway milik PT Royal Boskalis tidak mengindahkan penolakan warga, mereka tetap menghisap jutaan kubik pasir guna kepentingan proyek reklamasi CPI di  makassar.
Pendudukan akan dilakukan hingga tuntutan warga terpenuhi dan proyek “pencurian pasir” dihentikan dalam waktu sesegera mungkin.   (R)