Usut CSR di Galesong, Tiga Aktivis di Serang Massa
TAKALAR – Insiden pengeroyokan tiga aktivis di Alun Alun Lapangan Makkatang Daeng Sibali cukup menarik perhatian karena kejadiannya selain di tempat terbuka (umum), juga pihak kepolisian belum mengamankan pelaku yang dinilai sarat premanisme. Bahkan kabar berhembus, peristiwa yang menyebabkan ke tiga aktivis yang di serang mengalami luka sangat terencana.
“Kami harap, polisi tidak setengah hokum melakukan penyidikan,” harap salah satu korban pengeroyokan, Asman.
Peristiwa yang melibatkan aktivis dan mahasiswa di Alun Alun, lapangan Makkatang Dg Sibali beberapa waktu lalu (Rabu, 24/11) di kabar terkait kencangnya pergerakan pengusutan dana CSR di kecamatan Galesong Utara (Galut).
Dana Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan hak warga pesisir yang terkena dampak langsung penambangan pasir di laut. Namun konon dikabarkan, dana tersebut tak sampai ke yang berhak hingga beberapa aktivis mempertanyakan dan mengusutnya hingga masuk di ranah hokum.
Tak terima dana CSR di obok-obok, sekumpulan mahasiswa atas perintah oknum melakukan penyerangan terhadap tiga aktivis yang sedang bersantai ngopi di Alun Alun lapangan Makkatang Daeng Sibali.
Puluhan mahasiswa gelar aksi unjuk rasa di jalan Perintis Kemerdekaan , tampak sepanjang jalan Perintis Kemerdekaan sempat mengalami macet total akibat demonstran sempat memblokade akses jalan , kamis 10 Desember 2021.
Mahasiswa tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Anti Kekerasan (AMAR) itu ikut turut memperingati hari Hak Asasi Manusia sekaligus menuntut dalam orasinya terkait beberapa hasil kajiannya atas beberapa kejadian kejadian dari beberapa bulan lalu, yaitu :
“Kami dari Aliansi Mahasiswa Anti Kekerasan (AMAR) sangat menyayangkan tindakan premanisme yang terjadi di pelataran Alun-Alun Makkatang Dg Sibali di Kabupaten Takalar. Dan kami juga minta, agar polisi mengusut dan menindak tegas para pelaku penyerangan,” tegas mahasiswa saat orasi di jalan Perintis Kemerdekaan beberapa waktu lalu. (cw)
