“No Fee” Jadi Topik Bincang Lepas di Kafe dan Warkop
Mencuatnya kepermukaan kabar pengumpul Fee proyek, mengingatkan kata “No Fee” di sela kampanye.pada Pilkada empat tahun lalu. Tak pelak, menjadi topik bincang lepas di Warkop dan kafe.

TAKALAR – ‘Naciniki Mata, Nanikasia’mo Anne” merupakan tageline nyata dan rasa yang cukup dijadikan proses belajar langkah selanjutnya. Kondisi dikepemimpinan berbeda itu, ibaratnya adonan dari ramuan sama tapi hasil dan rasanya berbeda.
Adalah Pengumpul Fee yang dipercayakan membangun komunikasi dengan rekanan (kontraktor) meski faktanya tak sesuai harapan. “Saya di desak menyetor fee, namun pengumpulnya tidak mengerti” begitu pengakuan salah seorang pejabat yang bersentuhan langsung dengan oknum pengumpul Fee.
Dan seiring waktu, topik fee proyek inipun jadi perbincangan menarik di Warkop dengan kata “No Fee” katanya saat pilkada lalu.
“Kalau ditakdirkan terpilih, akan memenuhi target 22 Program unggulan,” begitu calon Bupati SKHD di setiap kali orasi waktu itu yang sontak di aplos pendukungnya dengan teriakan diantaranya “No Fee”.
Tak terelakkan, perjalanan waktu mengubahnya hingga 360 derajat dari ‘No Fee’ menjadi kumpulkan Fee. Fakta itu jelas karena pengakuan salah satu pelaku yang mengaku dimintai setoran.
Dari guyonan di bincang lepas salah satu warkop Rabu tadi (30/3) memberikan gambaran karakter pemimpin yang sesungguhnya.
Dan sekelumit kalimat terucap “Kamu punya investasi cukup besar, nanti dikondisikan,” ucap Bupati terpilih waktu itu di sebuah kafe di Jakarta kepada seseorang yang dinilainya pantas diperhatikan, meski tak sesuai harapan.
“Sisalai Bulunna Na Tingkokona”. (cw)
