DaerahHukumPeristiwaTAKALAR

H. Mustafa Mengaku Tak Pernah Bermohon di BRI, Kenapa Ada Kredit…?

BRI Cabang Takalar sepertinya sudah dirasuki aksi oknum ‘Mafia Perbankan’ yang sengaja merekayasa administrasi untuk dapatkan untung dan mengorbankan nasabahnya hingga miliaran rupiah.

TAKALAR – Adalah ‘H. Mustafa Nasir’ korban permainan oknum managemen BRI Cabang Takalar yang dituding memiliki akar kredit yang harus ditanggungnya hingga bertahun-tahun dan sudah menguras keuangannya miliaran rupiah. Hebatnya, pihak BRI memenangkan perkara perdatanya di Pengadilan Negeri (PN) Takalar meski barang buktinya (baket) secara administrasi tidak dimiliki.

Bahkan kata Mustafa di kantin kantor Polres Selasa kemarin (16/6), dirinya sampai sekarang masih tidak habis pikir dengan putusan kemenangan yang tidak dipihaknya. Padahal, secara keseluruhan barang bukti dimilikinya, sementara pihak BRI sama sekali tidak bisa memperlihatkan bukti administrasi berkait piutang (akar kredit) yang dialamatkan ke dirinya. “Saya sangat yakin, Pengadilan juga tidak adil,” kesal Mustafa.

Dijelaskan korban, pengibulan BRI ini sudah pernah bergulir di Pengadilan Negeri Takalar yang juga melahirkan salinan putusan yang terkesan keliru dengan perbedaan angka dan bilangannya. Disalinan putusan tersebut, terdapat tulisan keliru diantaranya Addendum perjanjian kredit No. 82 tanggal 25 April 2007, angka Rp. 100.000,00 ditulis terhitung seratus juta rupiah dan pada addendum No. 49 tanggal 24 April 2008 juga mengalami kekeliruan tulisan yang angka rupiahnya Rp.150.000,00 namun terbilang seratus lima puluh juta rupiah.

Nasabah yang dituding berutang senilai Rp. 2 Miliar ini terlihat membawa kembali beberapa lembar data yang menurutnya, merupakan bukti indikasi kesalahan fatal pihak BRI Cabang Takalar yang mengakibatkan dirinya dirugikan Puluhan Miliaran Rupiah.

Bukti-bukti tersebut menurut H.Mustafa Nasir adalah terkait suplesi dan perpanjangan. karena suplesi dan perpanjangan seharusnya bukan dari saldo debit. “Mengenai suplesi dan perpanjangan pihak BRI Cabang Takalar mengambil di plafond bukan pada saldo debit. Hal ini sangat merugikan saya, karena seharusnya dia mengambil dari saldo debit. “ Ungkap H. Mustafa.

“Kalo di hitung kerugian kerugian saya antara tahun 1995-2015 sekitar 15 miliar lebih. Ini saya temukan dalam rekening koran. Dan kesalahan ini menurut saya sangat fatal. Sebenarnya masih banyak lagi kejanggalan yang lain. Termasuk perhitungan debit-kredit lainnya. Nanti saya sebarkan ke media satu per satu,” janji Mustafa mengaku sangat meragukan kredibilitas BRI Cab. Takalar.  (cw)