Tradisi Akikah Bayi dengan Melepas Sesajen ke Laut

POLEWALI MANDAR – Tradisi “massorong salu” atau akikah bayi berusia 7 hingga 21 hari dengan melepas sesajen ke tengah laut hingga kini masih terus dilakukan oleh warga Desa Paku, Kecamatan binuang, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Tradisi ini selain bermakna sebagai persembahan sesajen berisi aneka macam makanan seperti beras ketan tujuh warna, ayam panggang, kelapa, telur dan pisang kepok kepada penguasa laut, juga sebagai doa agar kelak sang bayi tumbuh dewasa dan murah rezeki.

Tradisi “massorong salu” ini dilaksanakan oleh keluarga yang baru saja melahirkan anak mereka, Selasa (10/1/2017). Sebelum tradisi dimulai, acara diawali dengan pemotongan rambut bayi yang baru dilahirkan.

Setelah itu, prosesi tradisi massorong salu pun digelar. Sejumlah sesajen yang telah disiapkan terlebih dahulu diberi mantra-mantra.

Upacara ini biasanya dipimpin oleh tokoh adat atau sang dukun yang bantu melahirkan bayi. Setelah memberikan mantra-mantra keselamatan kepada sang anak, kemudian sesajen dibawa ke pinggir pantai sebagai persembahan kepada penguasa laut.

Tradisi ini juga dipercaya warga bisa mencegah sang bayi terhindar marabahaya kelak setelah dewasa.

Sesampai di pinggir pantai, sesajen kemudian diletakkan di pinggir pantai. Selembar tikar dihamparkan di atas pasir. Sesajen kemudian kembali diberi mantra-mantra keselamatan oleh sang dukun. Setelah itu, sesajen dilepas ke laut.

Setelah dilepas ke laut, sesajen kemudian menjadi rebutan warga untuk diambil isinya. Mereka percaya bahwa sesajen tersebut bisa membawa berkah bagi warga.

Hanya saja sesajen ini tidak boleh diperebutkan oleh keluarga terdekat pemilik hajatan.

“Massorong Salu itu tidak hanya bermakna sebagai sesajen kepada dewa laut tapi juga sebagai ungkapan doa keselamatan kepada sang bayi agar kelak selamat dan terhindar dari marabahaya,” ujar Darna, pemilik hajatan ke kompas.com.  (*)