Demi Sekolah, Siswa Seberangi Jembatan Gantung Lapuk

Puluhan pelajar pasrah menjalani kehidupan yang serba kekurangan dan penuh resiko. Mereka kesehariannya, menyeberangi sebuah jembatan yang sudah lapuk demi mendapatkan pendidikan.

Siswa di Kampung Tanjungsari, Desa Nagrog, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, terpaksa harus melewati jembatan gantung rusak beralaskan potongan kayu lapuk untuk mencapai sekolah setiap harinya. Kekuatan jembatan yang hanya mengandalkan bentangan seling besi dengan lebar kurang 1 meter dan panjang sekitar 20 meter itu sempat putus diterjang banjir bandang pada 20 September 2016 lalu.

Jalan ini sebagai penghubung dua desa berbeda kecamatan yaitu Desa Nagrog, Cipatujah dan Desa Neglasari, Culamega, serta dijadikan akses utama warga setempat pergi ke pusat pemerintahan, pasar dan sarana pendidikan.”Jembatan gantung ini dibuat tahun 2010 dan sempat putus pada September kemarin akibat banjir. Anak-anak dan kami para guru pun terpaksa lewat ke sini karena kalau pakai jalan lain memutar harus 1,5 jam ke sekolah. Meski kami khawatir sekali kondisinya bisa menimbulkan korban jiwa jika sampai putus kembali,” ungkap Yana Mardiyana, seorang guru SD/SMP Satu Atap Tanjungsari asal Desa Nagrog, Rabu (7/12/2016).

Jembatan ini melewati salah satu muara sungai Cipatujah. Sampai sekarang, belum ada perbaikan apalagi pembangunan secara permanen dari pemerintah untuk jembatan gantung yang kondisinya mengkhawatirkan itu. Padahal selain kondisi pendidikan, roda perekonomian warga di kedua desa tersebut mengandalkan akses jalan tersebut.

“Kemarin sempat tak bisa dilalui sama sekali, dan hampir dua bulan lebih warga di sini harus memutar ke jalan lain yang sama kondisinya rusak parah penuh bebatuan,” ungkap dia.

Andri (17), salah seorang pelajar SMK Culamega yang tiap hari melintasi jembatan untuk pergi ke sekolah, mengaku, memang takut selama ini. Dirinya dan pelajar lainnya khawatir saat melintas jembatan akan putus kembali dan membahayakan nyawanya.

“Jaraknya sangat jauh kalau memutar dan tak melewati jembatan ini. Jadi terpaksa lewat jembatan ini karena bisa ditempuh hanya 15 menit sudah sampai ke sekolah,” ujar dia.

Melihat kondisi warganya sangat berisiko tinggi saat melintasi jembatan gantung tersebut, warga desa setempat sepakat untuk memperbaiki secara swadaya dan bergotong rotong. Pasalnya, perbaikan dari pemerintah daerah setempat tak kunjung datang dan belum terealisasikan.

“Perbaikan secara swadaya, kami bersama seluruh warga hampir selama sepekan lamanya. Soalnya kami khawatir dengan warga kami yang harus menempuh bahaya saat melintasi jembatan itu. Apalagi kalau bamjir datang lagi jembatan sangat rawan bisa putus kembali,” ujar Kepala Desa Nagrog, Eji Risandi

Seperti dilansir kompas.com, jembatan sudah bisa digunakan lagi untuk sepeda motor yang sebelumnya hanya bisa dilewati warga secara bergantian. Perbaikan ini diakuinya tanpa ada bantuan dari pemerintah setempat.

Namun, warga setempat berharap pemerintah akan peka dengan kebutuhan umum masyarakatnya dan bisa diprioritaskan dibangun jembatan ini secara permanen.

“Kami sangat berharap pemerintah daerah maupun provinsi mengetahui kondisi kami, dan segera ada pembangunan jembatan sebagi akses utama kami menghubungkan antar desa,” pungkasnya. (*/R)