Distributor – Pengecer Ditengarai Berperan Mainkan Harga Pupuk

TAKALAR – Secara Nasional kenaikan harga pupuk di semua produk mengalami kenaikan, baik produksi PT. Kaltim (Urea) maupun PT. Petro Kimia Gresik (ZA, NPK, SP36 dan Organik). Namun hal mengejutkan dan dikeluhkan petani, karena harga eceran tertinggi (HET) khususnya pupuk Urea hanya berada dikisaran angka Rp112.500 per-zaknya. Sementara harga di pasaran umum (pengecer red.) bervariasi antara 125.000 hingga Rp140.000, bahkan ada yang memasarkan hingga Rp150.000.

Polemik harga pupuk yang melambung tinggi sangat dirasakan kaum tani dan terpaksa dibeli karena kebutuhan mendesak.

Salah satu Distributor yang dihubungi via telefon Minggu kemarin ‘cv Tani Berdikari’ enggan beri penjelasan dengan asumsi harus mengkomunikasikan dengan bosnya. “Maaf pak, saya tidak bisa jelaskan tanpa se-izin bos,” ungkapnya singkat tanpa ada konfirmasi balik hingga sekarang.

Dilain pihak, Manager Pemasaran salah satu Distributor, Sugiarto Dg Tojeng menjelaskan kenaikan harga hingga Rp140.000 per-zaknya masih dalam batas wajar karena menggandeng tambahan non-subsidi. Maksudnya, dari harga eceran tertinggi mengalami kenaikan angka dikarenakan adanya perpaduan subsidi dengan non-subsidi saat transaksi.

Semisal jelasnya, petani beli pupuk urea satu hingga tiga zak dengan harga eceran tertinggi akan mengalami kenaikan pembayaran karena ada tambahan non-subsidi yang diberikan guna menutupi kekurangan jatahnya. “Harga Rp140.000 itu dalam tataran wajar dengan bentukan perpaduan dimaksud,” pungkasnya.

Menyikapi konten kenaikan harga pupuk yang cukup tinggi tersebut, ada kecenderungan terjadinya kolaborasi peng-akalan dilakukan pihak distributor kerjasama pengecer guna mengerut untung. Kenapa, karena petani dikenakan tarif paksa untuk membeli pupuk non-subsidi dengan cara ‘menggandeng’ di harga subsidi.

Sementara Kepala Dinas Pertanian, Muhammad Hasbi masih belum bisa dihubungi hingga sekarang.   ©