Kesan Paksa Beli Pupuk Non Subsidi Warnai Lonjakan Harga

‘RDKK’ selebaran data kelompok (petani) yang jadi sample pengambilan atau pembelian pupuk bersubsidi yang ujungnya ‘wajib beli non subsidi’. Harganya-pun tak tanggung meskipun ekonomi petani terpuruk di tengah pandemi covid-19. “Kami terpaksa beli karena kebutuhan,” keluh seorang petani di kecamatan Polongbangkeng Utara (Polut).

TAKALAR – Kata petani ini, dirinya membeli pupuk Rp140 ribu perzaknya padahal di RDKK yang ditanda-tanganinya adalah pupuk bersubsidi. Herannya, diwajibkanki ambil pupuk non subsidi. “Tempat pembeliannya di salah satu pegecer di wilayah Polongbangkeng Utara tepatnya di toko Sinar Mutmainna, Desa Parang Baddo,” bebernya.

Kisah transaksi kebutuhan pupuk subsidi petani terus jadi perbincangan dengan keluhan langka dan sangat mahal. Harga berdasarkan eceran tertinggi (HET) sebesar Rp112.500 per-zaknya melonjak drastis hingga di angka Rp125.000 hingga 140.000. Distribusi dengan transaksi rupiah yang bervariasi antar distributor satu dengan lainnya cukup memberikan gambaran adanya permainan harga di tingkat distributor kolaborasi pengecer.

Halnya di wilayah Galesong dan Galesong Utara (Galut), harga pupuk urea berada dikisaran angka Rp125.000  hingga Rp130.000. Hal tersebut menurut warga di Galut, sangat bergantung pada kondisi atau tingkat kebutuhan dengan ketersediaan pupuknya. Maksudnya, harga bisa dijangkau di angka 125 ribu kalau stoknya banyak, dan angka lebih dari itu bisa merangkak naik kalau stok kurang.

Aliansi Masyarakat dan Pemuda Peduli Petani (AMP3) di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), Senin (18/1) sebagai bentuk kepeduliannya terhadap petani yang saat ini tengah trauma dengan kelangkaan dan kemahalan harga pupuk.

Perusahaan pemasok pupuk wilayah kecamatan Pattallassang, Galesong dan Galesong Utara, cv. Rabiah yang dimintai konfirmasinya membenarkan harga antara Rp125 hingga Rp130 ribu per-zaknya. “Benar, harganya memang segitu anatara rp125 hingga rp130 ribu,” aku Syarief Nombong.

 Informasi lain juga mengabarkan di kecamatan Mangngarabombang (Marbo). Di area distributor cv Anjas yang dikendalikan Ahmad Leo ini, harga pupuknya bahkan sampai pada angka tertinggi Rp150 ribu per-zaknya, benarkah wallhualam karena yang bersangkutan belum berhasil dihubungi.    ©