Pengabdian Seorang Guru, Rela Jalan Kaki 12 Km Setiap Hari

PINRANG – Peringatan Hari Guru Nasional 25 November 2016 tahun ini tak membuat nasib Muh Idrus, satu dari tiga guru terpencil di SD Sabura 156 Desa Sabura, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, berubah. Untuk mengajar di sekolah terpencil, dia harus menempuh perjalanan yang mendaki dan menyeberangi sungai sejauh 12 kilometer lebih setiap harinya. Saat hujan dan kondisi jalan becek dan licin dan tak layak dilalui kendaraan roda dua seperti motor, Idrus terpaksa berjalan kaki ke sekolah.

Sementara itu, siswa-siswanya yang tinggal jauh dari lokasi sekolah juga harus berangkat lebih pagi sekitar pukul 06.00-07.00 Wita agar bisa tiba di sekolah lebih awal dan bisa belajar tepat waktu pada pukul 08.00 Wita.

Minimnya tenaga guru membuat Idrus harus menghadapi tiga kelas dalam waktu bersamaan. Di SD 156 Sabura, sejak empat tahun lalu tercatat hanya ada tiga guru, termasuk seorang kepala sekolah dan seorang guru honorer. Bisa dibayangkan saat salah satu guru di sekolahnya sakit atau berhalangan hadir, Idrus harus bekerja sekuat tenaga mengajar secara maraton di enam kelas berbeda.

Agar aktivitas belajar bisa dipantau dan materi pelajaran disampaikan dengan baik, ruangan kelas dibuat menjadi tiga sekat kelas 1, 2 dan 3, sedangkan ruangan lainnya juga dihuni tiga kelas 4,5 dan enam yang dibatasi sekat-sekat dari papan tripleks agar para siswa tidak saling menggganggu konsentrasi saat belajar.

Saat Idrus mengajar di kelas IV, dua kelas lainnya yakni kelas V dan VI diberi tugas membaca atau tugas apa saja sambil menunggu giliran mendapat materi pelajaran baru. Setelah memberi materi pelajaran di kelas IV, Idrus kemudian bergeser ke kelas V atau VI di sebelahnya. Saat kepala sekolah dan guru honorer lainnya hadir, Idrus relatif mengajar lebih ringan karena dia hanya menghadapi tiga kelas berbeda pada jam bersamaan. “Setiap hari itu nyaris tak punya waktu istirahat selama jam pelajaran berlangsung,” tutur Idrus.

Saat mendekati musim ujian nasional seperti saat ini, siswa terutama siswa kelas VI, diwajibkan membawa bekal untuk makan siang. Pasalnya, sore hari sekitar pukul 14.00 Wita, mereka harus mendapat tambahan pelajaran atau les pelajaran menghadapi ujian nasional. Para siswa baru meninggalkan sekolah pada pukul 16.30 Wita. Mereka sengaja dipulangkan lebih awal agar para siswa bisa tiba di ruamhnya sebelum malam hari.

Di sekolah ini, para siswa bebas memggunakan pakaian apa saja. Para guru memgaku tak ingin menerapkan disiplin berpakaian, termasuk sepatu agar anak-anak mereka bisa bersemangat datang ke sekolah tanpa terbebani peraturan seragam. Bagi guru, memupuk semangat bersekolah dan menjadikan sekolah sebagai tempat yang nyaman untuk para siswa jauh lebih penting daripada bicara soal aturan disiplin berpakaian ke sekola agar anak-anak itu tidak putus sekolah. “Siswa boleh pakai sandal, pakaiannya boleh seragam atau tidak yang penting mereka mau datang ke sekolah,” tutur Idrus kepada kompas.com.

Menurut Idrus, pihak sekolah sebetulnya sudah lama mengajukan permintaan tambahan guru minimal satu orang agar mereka bisa menghadapi hanya dua kelas dalam setiap kali mengajar. Namun hingga kini, permintaan tersebut belum juga direspons pemerintah setempat.

SD 156 Sabura termasuk sekolah miskin sarana dan prasarana. Jangankan laboratorium komputer untuk menambah wawasan dan pengetahuan para siswa dan guru, sarana perpustakaan saja tak ada.

Di sekolah yang terletak di perbatasan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat ini, juga ada siswa asal Sulawesi Barat yang belajar setiap hari di sekolah ini. Mereka memilih bersekolah ke Dusun Sabura atau SD 156 Sabura karena alasan lebih dekat ke Kabupaten Pinrang. SD 156 Sabura hanya berjarak sekitar 35 kilometer dari ibu kota Kecamatan Lembang atau 85 kilometer dari ibukota Kabupaten Pinrang. Namun, kondisi jalan perbukitan yang belum beraspal dan sebagian baru dirintis membuat jarak tempuh perjalanan bisa memakan waktu lebih berjam-jam. (*/R)